Thursday, August 20, 2009

Cari bonus sebanyak-banyaknya!!!


Ketika mendengar kata 'bonus', biasanya nich telinga kita langsung
merespon. Nggak cuma telinga, secepat kilat (kilat dalam slow motion,
mungkin), seluruh tubuh kemudian memberikan respon. itulah mengapa
bank-bank yang hampir bangkrut dan ngak punya uang berani masang bonus
yang gila-gilaan, bahkan mobil mewah tiap hari bagi satu pemenang.

Begitu pengumuman bonus ini sampai di masyarakat, masyarakat kita yang
jago berangan-angan langsung berebutan jadi nasabah bank tersebut.
Uangpun terkumpul dari masyarakat. uang itu diambil sebagian dan
kemudian dijadikan bonus. begitu seterusnya, nasabah kita dikibulin
terus-menerus. Makanya, struktur ekonomi Indonesia rapuh dan hal ini
terbukti pas krisis 1997.

Yang diatas itu contoh bonus yang dijanjikan oleh bank-bank
bangkrut.Menipu dan memperdaya. Tapi, ada lho bonus yang bener-bener
ditujukan buat kita, tanpa ada 'udang di balik batu' maupun gajah di
pelupuk mata (Lho?!). Bonus-bonus ini bertebaran di sekitar kita, namun
kadang meliriknya sedikitpun nggak. Bonus-Bonus itu adalah ibadah-ibadah
sunnah atau nafilah yang bertebaran di sekitar kita, mulai dari pagi
hingga pagi lagi.

Di bulan Ramdhan, pahalanya setara dengan pahala ibadah wajib, lho!
Makanya, Kumpulin poin sebanyak-banyaknya! ingat...waktunya terbatas!



Ditulis ulang oleh : Melvina Amir

Source: Book Magz (Pro-U Media)

Ramadhan Al-Mubarak

Kini, bulan Ramadhan segera datang menghampiri. Baginda Rasulullah saw. secara khusus memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT: «اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَ حَصِّلْ مَقَاصِدَنَا» Duhai Allah, berkahilah k...ami pada bulan Rajab dan pada bulan Sya’ban ini; sampaikanlah diri kami pada bulan Ramadhan; dan tunaikanlah keinginan-keinginan kami (HR Ahmad).

Mata kadang salah melihat
Bibir mungkin salah berucap
Hati kadang salah menduga
maafkan atas lisan yang tak terjaga
serta prasangka yang meski dalam hati saja

Bocah Misterius.....(sebuah renungan kembali)

disadur dari sebuah milis,,,semoga bermanfaat dan menjadi renungan bagi kita semua,,,aminn


BOCAH MISTERIUS

"Hey kamu....ayo sini," sapa Luqman dengan halus
kepada seorang bocah yang dengan sengaja menganggu
anak kecil lain yang sedang berpuasa. "Siapa namamu?
Dari mana asal kamu?" tanya Luqman sambil memegang
lengan bocah itu. Sebenarnya Luqman gemas, tapi ia
tahan kegemasan itu.

Meski ditanya dengan sopan, bocah itu malah balik
mendelik ke arah Luqman dan tertawa menyeringai! Tawa bocah itu membuat Luqman segera melepaskan pegangannya seketika.

Luqman merasa bocah ini bukanlah anak sembarangan. Sungguh pun penampilannya kayak bocah biasa.

Kaos plus celana pendek. Agak lusuh tapi bersih.

Luqman melihat mata bocah itu. Mata itu bukanlah mata
anak manusia pada umumnya. Ditambah lagi, sebelumnya
Luqman tidak pernah melihat bocah itu dikampungnya,
kampung Karangdowo, Bae - Kudus.

Luqman sudah bertanya kesana kemari, adakah tetangga atau orang dikampungnya yang mengenali siapa bocah itu dan siapa keluarganya.
Semua orang yang ditanya Luqman menggelengkan kepala, tanda tak tahu.

************ *******
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Karangdowo.
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.
Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap
dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat
diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus.

Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena
kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada,
matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung
mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah
kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan
bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan
roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian
dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap
dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan
memberikan kilatan yang menyeramkan.

Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

************ ********* **

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu.
Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda
zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah
itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan
hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es
kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi.
Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.
Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan
ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun
lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut,
bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar Luqman.

"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali

mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.

Ia berpikir, kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia
akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau
memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan
cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya
bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak
menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak
tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan
membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan
tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang
melihatnya.

" Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan
menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan
saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang
kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada
Luqman.

"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,"
jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan
uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai.

Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua!
Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini
ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan
kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang
kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya
dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan

melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit
saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami
yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput
ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran
waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib
terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?"

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi
kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara
bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu
tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara
lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan .., kami ini berpuasa tanpa ujung,
kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan
puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami
makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang
saja.

Dan ketahuilah juga , justru Tuan dan orang-orang di
sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami
dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu
kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam
mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi
banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya
denga istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat
kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya
ada kepedulian yang seadanya pula .

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang
menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali
termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap
orang-orang kecil seperti kami...!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu
kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara
berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan
orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan
melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan,
berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan
bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa
dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih
menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut kan tetap
kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun,
jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak..."

************ ********* *

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati
Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut
bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya,
semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar
adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu
pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya
terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah
itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman
berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan
raya kampung Karangdowo. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua
orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu
keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar
misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah,
balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.
Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal,
tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja.
Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah
misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang
berharga, betapa kita sering melupakan orang yang
seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak
berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa
seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali
menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan
membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial
yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan
kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah
memberikannya hikmah yang luar biasa.

Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau
dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan
kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus
menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya
orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga
bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak
itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,
selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

************ ********
Luqman berniat, akan terus menggunakan lisannya untuk
bersuara dan tangannya untuk menulis "agar seribu
tahun" lagi kita masih mendengar tawanya anak bangsa
dalam keadaan ceria.... Ah, bocah kecil, dimana kau
berada...?

************ ********

Di setiap tetesan nikmat yang kita rasakan, ada
baiknya kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga
berhak untuk merasakannya.

Semoga ALLAH SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang Bertaqwa

Seorang Wanita Berjilbab (sebuah renungan...cerita dari seorang teman)

Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata, “Saya punya permainan.. caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, namun jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!”. Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, tapi jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai. Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, selingkuh dan zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, tawuran menjadi trend pemuda.. dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham..?” Tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham, Buu…” Baik permainan kedua..” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet? Murid-Muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya sang guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet. “Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. . musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. . karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Premanpun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.”Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu-persatu, baru rumah dihancurkan. .”“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka.. dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian.. paham anak-anak?”Paham, Buu!” “Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, Bu? ” tanya mereka. “Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.” “Begitulah Islam.. kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.”Kalau saja ummat Islam di Ambon tidak diserang, mungkin umat Islam akan lengah terhadap sesuatu yang sebenarnya selalu mengincar mereka. “Paham anak-anak?” “Paham, Buu..” “Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..”Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Sunday, August 16, 2009

17-an ku Taon Lalu...


Pagi yang cerah, aku dan 2 orang temanku bergegas kluar rumah dan berlari kecil menuruni anak tangga dari lantai 3 apartemen kami di blok Hentian 2. Saat itu kami bertiga terlalu bersemangat untuk berangkat ke Kuala lumpur untuk menghadiri upacara bendera 17-an dan merayakan kemerdekaan RI di Wisma KBRI. Hari itu adalah moment special bagi kami para pelajar asing di negara orang. Hari itu juga kami akan berkumpul dan bergabung dengan teman2 pelajar dari universitas, kolej dan institusi lainnya di malaysia, tidak hanya para pelajar tapi juga ngumpul dengan saudara2 kami para TKI sampai Pejabat2 KBRI yang necis and gagah.Kehadiran kami di wisma KBRI semua memiliki tujuan yang sama yaitu Menyaksikan Merah-Putih Berkibar di bumi Melayu Malaysia...

Dengan rasa kemerdekaan dan nasionalisme yang tinggi kami menunggu bus UKM yang akan membawa kami ke tempat upacara.ternyata eh ternyata yang datang bukannya bus kampus UKM tercinta yg kueren tapi malah bus biru, bus kilang alias bus untuk mengangkut para pekerja di kilang (pabrik)...katanya sech bas UKM pada dicarter ke Singapore untuk festival budaya. Ada beberapa teman yang coment..masa kita naik ginian...emangnya kita pekerja..apa kata dunia....

Sedikit kecewa sich, tapi akhirnya kita semua tetap bersyukur ada transport yg bs bawa kita...g lucu khan ke KL jalan kaki or naik publik transport yg lain...secara wisma KBRI di kawasan khusus...k-lo acaranya di embassy boleh lah kita naik bus Rapid KL

Dengan semangat kemerdekaan yang masih membara..kami menyegerakan naik ke bus dan memcari posisi masing-masing...tapi..ada masalah lagi nich...ehmmm tuk merayakan kemerdekaan aja penuh dg perjuangan.
si pak driver gak mau nyetir dg alasan kepenuhan passengger. Pak supir takut di saman polis (ditilang) singkat cerita, setelah negosiasi jadi juga kami berangkat k KL.Dan akhirnya...bus pun melaju...

tapi yach ampyuuuuuuuunnnnnnnnnnnnn.....Jaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmm, macet bow' KL gitu lho, office hour gmn g rush tuh highway...wadaw bakal telat nich..lewat dah moment bersejarah kami...hiks...hiks....hiks...

Tancap gas dunk pak driver, k-lo perlu crush aja mobil kancil and proton yg didepan...kami semua g mau terlewat momen bersejarah dimana bendera merah putih BERKIBAR gagah diiringi dengan lantunan lagu INDONESIA RAYA...

sesampainya bus di depan wisma...
bersamaan dengan decitan rem bus tiba2 sayup2 terdengar
"Indonesia raya...merdeka..merdeka...tanah ku negeriku yang kucinta..."

seketika itu juga kami semua yang di dalam bas berdiri, awalnya Shanti (teman serumahku)yang histeris meminta kami semua untuk hormat lalu kami serempak mengangkat tangan dan menoleh kebendera yang sudah hampir diujung tiang....(ini adalah gerakan yang paling heroik sepanjang massa yang kukenang....luarrr biasaaa)

tanpa dikomandani satu orang pun...semua bernyanyi....
"HIDUPLAH INDONESIA RAYA....."

Belajar dari sebuah Hymne


Sejak awal Agustus, bahkan sejak bertahun tahun lalu (setiap bulan Agustus), radio publik milik bangsa yang kita sebut dengan RRI (Radio Republik Indonesia) senantiasa menyiarkan hymne ini, setelah program warta berita. Dan rasanya, setahu saya hanya RRI –lah yang senantiasa menyiarkannya. Ehmm terkesan sok yakin banget... memang aku yakin banget hanya RRI yang tidak pernah absen tuk menyiarkan hymne ini, karena aku adalah pendengar setia RRI khususnya Pro2 Pekanbaru...

Mari, luangkan sejenak kesempatan dalam perjalanan waktu kita yang membentang untuk memaknai isi dan makna hymne ini. Lalu, tak ada salahnya kita bertanya pada diri kita, sebesar apakah bhakti, cinta dan ke-Indonesia-an kita pada negeri kita, Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku
Negeri dan Bangsaku yang kusayangi
Aneka suka dan duka
Penempaan Tuhan yang kita jalani
Sadar tahan ditempa Tuhan
Agar kita jadi bijak bestari
Ikhlas bakti membina bangsa
Yang adil dan beradab
Dirgahayu Indonesiaku
Negeri dan Bangsaku yang kita sayangi


Rasanya Hymne Dirgahayu Indonesia, karya (alm) H.Mutahar ini sungguh sangat relevan dengan kondisi kekinian bangsa kita. Betapa, suka dan duka dalam mengawal bangsa ini telah dapat kita rasakan, bahkan kita hanyut didalamnya. Bencana (karena) alam & karena ulah kita, tragedy, berbagai peristiwa sungguh mewarnakan kehidupan bangsa ini.

Semua tentu tempaan Tuhan, yang sudah semestinya kita terima, namun harus dijadikan sebagai pelajaran untuk menapaki kehidupan yang lebih baik dimasa datang. Bencana, mungkin tidak bisa kita hindari. Dengan kearifan, semua tentu dapat diminimalkan, setidaknya mengurangi dampaknya, agar (lagi-lagi) kita bisa lebih nyaman dalam penghidupan juga kehidupan.

Agar kita jadi bijak bestari, sebuah ungkapan yang rasanya harus terpatri dalam jiwa bangsa ini, untuk mengambil sikap yang (tentu) mengedepankan kepentingan bangsa dan Negara ini, dengan senantiasa berkaca pada pengalaman dan perjalanan masa silam. Dari padanya (masa lampau) sungguhlah tepat jika ada pengulangan yang bermanfaat, dan dari padanya pula jika hal pada masa lampau justru menyengsarakan bangsa ini, sudah selayaknya dan patut untuk dihindari, pun juga jangan sampai terulang kembali. Banyak sudah peristiwa dan kebijakan di masa lampau yang tidak berpihak pada kepentingan anak bangsa ini, segerakan untuk ditinggalkan.

Ikhlas bakti membina bangsa, yang adil dan beradab. Pemimpin bangsa ini, sudah harus menggariskan diri dan pengabdiannya dengan penuh ketulusan, berpihak pada semua kepentingan, tanpa beda dan membedakan sehingga keadilan di semua bidang yang selama ini (terkadang) masih menjadi mimpi dan cita cita belaka, mampu diwujudkan. Adil tidak berarti sama dan merata. Adil tentu proporsional, sesuai dengan norma dan aturan ukuran ‘kemanusiaan’ bukan adil yang semu. Banyak juga per-amsal-an akan hal ini.

coba kamu tanyakan pada dirimu, apakah kamu sungguh-sungguh mencintai dan menyayangi negeri ini. mungkin dengan jujur kita semua menjawab YA. Namun ada hal yang mesti kita perbaiki disini yaitu Nasionalisme bangsa ini mutlak kembali untuk kita renungkan. Benarkah nasionalisme kita mendarah daging dalam setiap langkah, gerak yang sejalan dengan pengabdian kita dalam mengisi kemerdekaan dan perjuangan untuk memuliakan bangsa yang belum usai ini? Marilah kita bertanya pada diri kita masing masing.

Menyayangi dan mencintai bangsa ini, sebuah hal yang mudah sekaligus susah. Layaknya hymne Dirgahayu Indonesia. Sebuah pujian, sebuah harapan, sebuah cita cita untuk bangsa yang besar, seperti yang dulu yang cita citakan oleh para pendiri bangsa ini. Bung Karno dan Bung Hatta yang mewakili seluruh elemen bangsa ini telah membukakan jalan. Telah mengantarkan kita pada sebuah gerbang kemerdekaan. Kemerdekaan dari belenggu penjajah.

Sekarang, kemerdekaan itu rasanya tercabik oleh ketidakpastian. Merdeka, tetapi kita terancam dan disergap tanpa akhir akan terror. Wahai anak bangsa, sadarlah penjajahan baru itu berupa terror. Terror (missal bom), hanya sebagian kecil bentuk penjajahan. Mulai menggurita terror lainnya yang jauh lebih bahaya dari sekadar terror bom. Terror baru itu berupa terror budaya asing, ekonomi, hingga ideology.

Dirgahayu Indonesia-ku, rasanya bangsa ini belum mampu sepenuhnya mengawal kebesaran dan kejayaaan nama-mu. Ijinkan kami untuk belajar mencintai dan menyayangi-mu (lagi), meski hanya dari sebuah hymne….

source : bluefame.com

Dirgahayu Indonesiaku

Dirgahayu Indonesiaku ... Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang ...belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain."
(Al-Maidah ayat 20)

Jenderal Soedirman untuk Kado HUT Negeriku


Jenderal ‘Kaji’ itu Seorang Panglima Perang
Kaifa Ihtada
11/8/2009 | 18 Sya'ban 1430 H | Hits: 281
Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi



Jenderal Soedirman bersama tentara dan rakyat (photobucket. com)

dakwatuna.com – “Kita sandarkan perjuangan kita sekarang ini atas dasar kesucian, kita yakin, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan melalaikan hamba-Nya yang memperjuangkan sesuatu yang adil berasaskan kesucian bathin. Jangan cemas, jangan putus asa, meski kita sekalian menghadapi macam-macam kesukaran dan menderita segala kekurangan, karena itu kita insya Allah akan menang, jika perjuangan kita sungguh berdasarkan kesucian, membela kebenaran dan keadilan. Ingatlah pada firman Tuhan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 138 yang berbunyi: “Walaa tahinu walaa tahzanuu, Wa antumul a’launa inkuntum mu’minin”, yang artinya “Janganlah kamu merasa rendah, jangan kamu bersusah hati sedang kamu sesungguhnya lebih baik jika kamu mukmin.”
Dengan penuh keyakinan sang Jenderal menyiapkan pasukannya. Kutipan ayat-ayat suci itu bukanlah pemanis bibir untuk mendongkrak popularitas. Kalimat agung itu hanya akan mampu dilahirkan oleh orang yang meyakininya. Pesan Rabbaniyah itu mengiringi seruan mobilisasi dalam menghadapi kekuatan Belanda, pada agresi kedua.
Dua jam sebelum pendaratan (Belanda, red), Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang masih berumur 30 tahun, membangunkanku. Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu, dia mendesak, “Saya minta dengan sangat, agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya.”
Sambil mengenakan pakaianku cepat-cepat aku berkata:
“Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua. Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini saya menghadapi kematian, tapi jangan kuatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …”
Soedirman mengepalkan tinjunya: “…Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”
Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, “Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?” tanyanya.
“Ya, jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa.. Isilah seluruh lurah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta”.
“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam. Dan jangan ke luar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!”
Itulah dialog yang terekam saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948, Sukarno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya.
Perlu diketahui bahwa pada saat memimpin perang gerilya paru-paru sang Jenderal hanya berfungsi sebelah atau hanya satu paru-paru yang bisa dijadikan tumpuan dalam setiap tarikan nafas sang Jenderal. Dan sebenarnya Presiden Sukarno pada waktu itu menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja karena penyakit Jenderal Soedirman pada waktu itu tergolong parah.
“Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….” Itu jawaban sang Jenderal. Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan sang Jenderal dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya.
Dengan berbekal materi seadanya Sang Jenderal memimpin pasukannya berperang melawan tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda. Dengan ditandu Jenderal Soedirman keluar masuk hutan, naik dan turun gunung memimpin pasukan, meracik strategi perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan lamanya dengan rute Yogyakarta sampai Malang. Kisah menarik terjadi pada waktu Jenderal Soedirman memimpin peperangan dan terjadi pengkhianatan dari salah satu anggota pasukannya.

Jenderal Soedirman (indonesianembassy. org.uk)

Tentara Belanda menggunakan berbagai cara untuk menjebak dan menangkapnya. Jenderal yang ahli strategi ini adalah target operasi yang paling diburu waktu itu. Setelah Belanda mendapatkan informasi dari salah satu penghianat di internal pasukan Jendral Soedirman. Belanda kemudian mengepung keberadaan Jenderal Soedirman.
Menyadari kondisinya dalam keadaan terjepit, Sang Jenderal tidak kehilangan akal. Seluruh anak buahnya diperintahkan memakai sarung dan peci, lalu dibuatlah scenario seolah-olah dalam ruangan itu tengah mengadakan pengajian. Taktik ini digunakan untuk mengelabui Belanda yang akan menangkap dirinya.
Pada saat salah seorang pimpinan Belanda memasuki ruangan dan bertanya di manakah keberadaan Sang Jendral, maka informan Belanda yang turut hadir dalam ruangan itu –selama ini tidak diketahui keberadaan pengkhianat ini– turut serta pula mengikuti taktik Sang Jenderal, berdiri dan menunjuk ke arah Jenderal Soedirman (Pada waktu itu berpura pura menjadi seorang kyai yang memimpin pengajian). Namun komandan Belanda itu tidak mempercayai kalau yang memimpin pengajian itu adalah Jenderal Soedirman sendiri,. Karena dinilai memberikan informasi palsu, akhirnya si pengkhianat malah ditembak di tempat oleh komandan Belanda tersebut. Kemudian mereka pergi dengan meninggalkan persembunyian Sang Jenderal dan anak buahnya. Maka selamatlah Jenderal Soedirman dan pasukannya.
Sebuah taktik brillian dan pengambilan keputusan yang tepat dari Sang Jenderal. Strategi perang gerilyanya terbukti efektif dalam memimpin pasukan melawan penjajah. Banyak kerugian yang diderita pasukan penjajah dalam taktik gerilya ini. Pertempuran dan perlawanan terjadi di berbagai daerah sehingga memaksa Belanda beserta sekutunya kembali ke meja perundingan.
Jenderal Soedirman diminta pulang kembali ke Yogya. ia dengan tegas menolak perundingan. Beberapa kali utusan Pemerintah dikirim ke Sobo, namun tidak berhasil melunakkan pendiriannya. Akhirnya Pemerintah meminta jasa baik Kolonel Gatot Subroto, Panglima Divisi II. Hubungan pribadi kedua tokoh ini cukup baik. Jenderal Soedirman sangat menghargainya sebagai saudara tua.
Akhirnya tanggal 10 Juli 1949 Panglima Besar dan pasukannya kembali ke Yogya. Di sepanjang jalan, rakyat berjejal-jejal menyambutnya. Mereka ingin melihat wajah Panglima Besarnya yang lebih suka memilih gerilya daripada beristirahat di tempat tidur. Kedatangan Panglima Besar disambut dengan parade militer, di Alun-alun Yogyakarta. Penampilannya yang pertama sesudah bergerilya diliputi suasana haru. Para perwira TNI yang selama bergerilya terkenal gagah berani, tak urung meneteskan air mata setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan fisik Panglima Besarnya yang pucat dan kurus. Rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu.

Jenderal Soedirman (photobucket. com)

Selama bergerilya kesehatan Soedirman menurun, beberapa kali ia jatuh pingsan. Setibanya di Yogyakarta, kesehatan Jenderal Soedirman diperiksa kembali, ternyata paru-paru yang tinggal sebelah sudah terserang penyakit. Karena itu Panglima Besar Soedirman harus beristirahat di rumah sakit Panti Rapih. Semua perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman dilakukan di rumah sakit. Rasa tidak senang terhadap diplomasi yang ditempuh Pemerintah dalam menghadapi Belanda, masih membekas di hati Jenderal Soedirman.
Pada tanggal 1 Agustus 1949, ia menulis surat kepada Presiden Soekarno, berisi permohonan untuk meletakkan jabatan sebagai Panglima Besar dan mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Namun surat tersebut tidak jadi disampaikan, karena akan menimbulkan perpecahan. Isi surat tersebut menjadi amat terkenal karena termuat kata-kata: “Bahwa satu-satunya hak milik Nasional Republik yang masih tetap utuh tidak berubah-rubah adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia).”
Sementara itu kesehatan Panglima Besar semakin memburuk, sehingga ia harus beristirahat di Pesanggrahan Militer, Magelang..
Tanggal 6 Juli 1949, Presiden, Wakil Presiden dan pemimpin Indonesia lainnya kembali dari pengasingannya di Sumatera.. Di Ibukota Yogyakarta mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat. Kedatangan para pemimpin RI itu disusul oleh rombongan Pemerintah Darurat RI pimpinan Mr. Syafrudin. Kembali juga dari medan gerilya, Panglima Besar Soedirman beserta rombongan tanggal 10 Juli 1949 yang didampingi oleh Komandan Daerah Militer Yogya, Letnan Kolonel Soeharto.
Saat-saat kembalinya dari medan gerilya. Panglima Besar Jenderal Soedirman ternyata tidak begitu senang dengan rencana kembali ke Ibukota Yogya saat itu, karena di daerah pertempuran di Jawa dan Sumatera masih banyak bertahan pasukan-pasukan gerilya TNI. Dan sementara berunding itu Belanda masih terus menerus mengadakan penyerangan (istilah mereka “pembersihan”). Soedirman sebagai Panglima Besar masih merasa berat hati meninggalkan para prajurit di medan gerilya. Di samping itu kecurigaan terhadap kejujuran lawan mengenai perundingan dan gencatan senjata, sesuai dengan pengalaman Soedirman selama beberapa tahun bertempur berunding dengan Belanda.
Tetapi karena kepatuhannya yang luar biasa kepada Pimpinan Nasional dan adanya surat yang dikirimkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan sahabat karibnya Kolonel Gatot Subroto yang disertai penjelasan Letnan Kolonel Soeharto, maka Soedirman akhirnya mau turun ke kota, dimana ia langsung melapor kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam suasana pertemuan yang sangat mengharukan.
Setelah itu Soedirman menerima parade penghormatan dari prajurit-prajurit TNI pimpinan Letnan Kolonel Soeharto di Alun-alun Lor Yogya. Surat Kolonel Gatot Subroto kepada Pak Dirman sangat sederhana bunyinya namun cukup menggugah perasaan. Pak Gatot yang kenal betul dengan Soedirman beserta semua sifatnya menulis antara lain:
”Tidak asing lagi soya, tentu soya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia kita diharuskan ikhtiar. Begitu juga dengan adikku (Soedirman-peny) , karena kesehatannya terganggu harus ikhtiar, mengaso sungguh-sungguh jangan menggalih (memikirkan- peny) apa-apa. Coat alles waaien. lni supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada yang Maha Kuasa. lni kali soya selaku saudara tua dari adik, minta ditaati “.
Soedirman adalah sosok pejuang kemerdekaan yang mengobarkan semangat jihad, perlawanan terhadap kezhaliman, membekali dirinya dengan pemahaman dan pengetahuan agama yang dalam, sebelum terjun dalam dunia militer untuk seterusnya aktif dalam aksi-aksi perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan negeri. Mengawali karir militernya sebagai seorang da’i muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu Soedirman adalah muballigh masyhur yang dicintai masyarakat.

Sang Jenderal Yang Mengagumkan!
Tanggal 24 Januari 1916 Soedirman dilahirkan. Ayahnya mandor tebu pada sebuah pabrik gula di Purwokerto, daerah Karesidenan Banyumas. Sejak bayi, Soedirman diangkat anak oleh Camat Rembang, Raden Tjokrosunaryo. Soedirman sejak kecil ia sudah biasa menghadiri berbagai pengajian yang digelar desanya. Ketika masih kanak-kanak, selepas Maghrib, bersama anak-anak lainnya Soedirman dengan membawa obor pergi ke surau untuk mengaji. Ketika bersekolah di sebuah lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, Perguruan Wiworo Tomo, Soedirman aktif dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan. Soedirman bersekolah di lembaga pendidikan yang dianggap liar oleh pemerintahan kolonial Belanda sampai dengan tahun 1934.
Di lembaga pendidikan ini, ada tiga orang guru yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter seorang Soedirman, yakni Raden Sumoyo; Raden Mohammad Kholil, dan Tirtosupono. Yang pertama memiliki pandangan nasionalis-sekuler. Yang kedua, Raden Moharnad Kholil, memiliki pandangan nasionalis-Islamis. Sedangkan yang ketiga, merupakan lulusan dari Akademi Militer Breda di Belanda. Kendati berbeda-beda persepsi, namun ketiga guru Soedirman tersebut sama-sama mengambil sikap non koperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dari ketiganya, karakter Soedirman terbentuk: Islamisme, Nasionalisme, dan militansi militer.. Bahkan dalam soal agama, Soedirman dianggap agak fanatik. Hal ini menyebabkan ia sering dipanggil dengan nama panggilan “Kaji” ( Si Haji) oleh kawan-kawannya.
Soedirman mengawali karir sebagai guru agama. Dia juga sering berkeliling untuk mengisi ceramah dan pengajian di berbagai tempat, dari Cilacap hingga Banyumas. Walau sibuk, namun Soedirman tetap aktif di organisasi Pemuda Muhammadiyah, hingga dipercaya menjabat Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah di Karesidenan Banyumas.
Karir militer diawali saat pemboman Cilacap oleh Jepang pada 4 Maret 1942. Ketika PETA dibentuk, Soedirman bergabung ke dalamnya. Dia menjadi Daidanco di daerah Banyumas yang dikenal berani membela anak buahnya dari kesewenang-wenangan Jepang. Soedirman pun mengumpulkan pasukannya sendiri dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Jepang tanpa pertumpahan darah. Dari pasukannya, Soedirman membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebagai cikal bakal TNI sekarang pada 5 Oktober 1945. Soedirman memimpin Resimen I/Divisi I TKR yang meliputi Karesidenan Banyumas. Persenjataan pasukannya sangat lengkap disebabkan ia berhasil merebut gudang senjata Jepang. Oleh Kastaf MBU TKR, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo, Soedirman diangkat menjadi Komandan Divisi V Daerah Banyumas.
Tak lama setelah menjabat, Soedirman ditugaskan memukul mundur pasukan pemenang Perang Dunia II, Inggris dan NICA, dari Banyubiru, Ambarawa, dimana terdapat orang Amerika yang ditawan Jepang. Menurut perjanjiannya, Inggris hanya mendaratkan pasukannya di Semarang. Namun Inggris ingkar dan menusuk hingga Ambarawa. Terjadilah pertempuran laskar santri yang dipimpin para kiai dari berbagai pesantren di Jawa Tengah, Soedirman berhasil memukul mundur pasukan Inggris / NICA hingga Semarang. Hal inilah yang kemudian Soedirman diangkat menjadi Panglima TKR.
Sebagai seorang Ustadz yang terpanggil untuk berjuang membebaskan dan mempertahankan kemerdekaan negerinya, jenderal Soedirman meyakini jika perjuangan ini merupakan jihad fi sabilillah, melawan kaum kafir. Sebab itu, dalam situasi yang paling genting sekalipun, Soedirman tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.. Selain ibadah wajib, seperti sholat lima waktu, Soedirman juga sering menunaikan Qiyamul-lail dan puasa sunnah.
Jenderal Soedirman selalu menjaga ibadah-ibadahnya. Bahkan dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi jiwanya. Dalam gerilya di selatan Yogya dalam perang kemerdekaan, Soedirman yang dalam kondisi sakit selalu menjaga sholatnya juga sholat malamnya. Bahkan tak jarang dia juga berpuasa Senin-Kamis. Di setiap kampung yang disinggahinya, dia selalu mendirikan pengajian dan memberikan ceramah keagamaan kepada pasukannya.
Kabar keshalihan Soedirman ini sampai ke seluruh penjuru Nusantara. Sebab itu, para pejuang Aceh yang juga meyakini jika perang kemerdekaan merupakan jihad Fisabilillah, begitu mendengar panglimanya yang shalih ini sakit, mereka segera mengirim bantuan berupa 40 botol obat suntik streptomisin guna mengobati penyakit paru-paru beliau.
Penyakit TBC yang diderita, tidak menyurutkan langkah perjuangannya. Sampai akhir usianya, 38 tahun, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dicintai rakyat menghadap Sang Khalik tanggal 29 Januari 1950, tepat hari Ahad. Bangsa ini mencatat satu lagi pejuang umat, yang lahir dari umat dan selalu berjalan seiring untuk kepentingan umat.

Sebuah perjuangan yang penuh dengan kateladanan, baik untuk menjadi pelajaran dan contoh bagi kita semua, anak bangsa.
Perjalanan panjang seorang da’i pejuang yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya melainkan berbuat
dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta.

Dirgahayu Negeriku!

===========
Homepage Resmi PPI UKM:
http://www.ppiukm.org (baru)



subhanallaah, hanya itu yang bisa saya ucapkan

Friday, July 10, 2009

Merawat Kepercayaan


Bismillah …

Siang ini aku kembali terserang virus yang sangat sulit untuk dicegah, iaitu virus ingin menulis. Beberapa hari ini banyak sekali pengalaman hidup yang aku dapatkan dari orang-orang sekitar dan teman-teman yang aku cintai. Untuk belajar tidaklah harus ke sekolah atau lembaga- lembaga pendidikan yang formal. Kita bisa belajar dari mana saja dan apa yang ada disekitar kita.
Pengalaman yang aku dapatkan di hujung minggu ini sangat bernilai. Secara pribadi aku sadar dan menjadi malu, sungguh ilmu pengetahuan yang aku miliki masih sangat cetek. Masih banyak hal yang tidak aku ketahui. Untuk itu aku mencoba mengulas sedikit salah satu pelajaran yang telah aku dapatkan dari pengalaman ujung minggu ini, iaitu tentang ”Kepercayaan”.

“Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki sifat amanah dan tidak ada agama bagi yang tidak bias memegang “. ( HR.Ahmad dari qatadah dari Anas bin malik)

“Aku percaya kamu…beneran dech”, “kamu percaya g sich sama aku”, please donk, percaya aku! Kamu boleh percaya aku….” Ini adalah sedikit contoh kata percaya yang sering kita utarakan untuk berbagai maksud dan tujuan.

Kepercayaan adalah rahasia hidup yang paling rumit. Karena ia harus berjalan secara timbale balik. Dapat kita ambil sebagai contoh, seperti kehidupan suami istri, atasan dan bawahan di kantor, rakyat dan pemimpin, masyarakat dan tokohnya, saudara dengan saudaranya. Yakinlah kepercayaan satu arah tidak akan bisa menjadi jaring kebersamaan.

Kepercayaan yang satu arah acapkali menyakitkan, bahkan kadang menistakan. Contoh seperti para penguasa yang selalu meminta rakyatnya berprasangka baik, padahal dibalik itu semua mereka menunjukkan tingkah laku yang tidak jarang tampak memuakkan. Atau suami yang merayu istrinya untuk percaya pada dirinya, padahal ia tak lebih hanya lelaki culas, mengejar uang dari sumber yang tak jelas. Dia telah tertipu dengan fatamorgana kepercayaan. Wakil rakyat yang meminta rakyatnya percaya, bahwa ia tidak punya maksud buruk atas segala keputusanannya menyetujui kebijakan kontroversial.

Kepercayaan sejujurnya tidak bisa diukur oleh sesuatu yang sifatnya materiil. Surat perjanjian, surat kesepakatan, surat pernyataan, atau bahkan undang-undang sekalipun, hanyalah alat mengikat kebersamaan. Tetapi rohnya tetap pada soal kepercayaan.

Alangkah indahnya hidup jika kita memiliki rasa saling percaya dan mampu merawat kepercayaan itu. Kita akan merasa ama bila pembantu dirumah kita bisa dipercaya akan menjaga anak-anak dengan ramah dan sayang. Bila murid-murid dan mahasiswa kita dapat dipercaya untuk tidak menipu dalam mengejar nilai dan gelar. Semua ini akan memberikan kita para generasi penerus yang berkualitas.

Akhirnya, kepercayaan adalah suara hati, bukan suara keangkuhan. Seni hidup yang dibangun diatas serat kepercayaan, sesungguhnya milik orang-orang yang punya keinginan baik. Kepercayaan menjadi mutiara hidup yang membahagiakan.

(sources: Tarbawi 2004, RiauPos 2009, Infotainment stasiun TV)

Melvina Amir
12:38 pm

Wednesday, July 8, 2009

Hidup tak bisa menunggu....



”Jangan menunggu. Jangan ditunda. Karena hidup tak akan menunggu kita”

Ungkapan ini yang aku camkan dalam fikirku tadi malam. Semalam tadi aku menangis, meratapi semua kekuranganku yang belum bisa kututupi. Masih banyak hal yang belum aku kerjakan, masih sedikit prestasi yang kuraih, tidak banyak karya yang telah aku cipta. selama ini aku terlena dengan santaiku. Kemana aja sih aku? Sibuk tak menentu. Ya kalimat itu yang pantas dialamatkan kepadaku. Dulu aku selalu di bilang SIBUKER (hari-hari penuh dengan kesibukan aktivitas), apatah lagi ketika menyandang status mahasiswa, bisa dibilang jam tidur yang kumiliki hanya 2-3 jam perhari. Selebihnya waktu yang ada kuhabiskan untuk belajar, diskusi, online, organisasi, rapat sana-sini, briefing, pengajian, seminar/ workshop, and menjadi pendengar setia teman-teman yang curhat. Kalau sekarang, aku ngapain aja? Paling hanya ngampus mengajar 5 hari kerja dengan alokasi waktu 90 menit per hari. Selebihnya? Yach palingan sabtu/minggu 2 bulan sekali ngajar ke daerah, dan sesekali menulis proposal untuk mini research ku sebagai dosen yang menyukai kegiatan penelitian. Uhhhh.......aku gak ada apa-apanya. Sementara yang lain......haaaaaa.....semakin miris hatiku....

Tak henti air mata jatuh membasahi pipi dan cukup melunakkan hatiku semalam tadi. Mataku sembab dan sebak didada. Hati kecil bicara, aku harus berbuat sesuatu, aku harus bergerak. Move on....stop for dreaming. Turning your dream to reality....Harus ada perubahan dalam hidupku, meski itu hanya hal sederhana.
Kucoba tuk mengingat kembali mimpi-mimpi kecilku dari sekian banyak mimpi-mimpi besar yang kumiliki. Aku ingin menulis, aku pengin punya buku dari hasil karya tulisku.Yach aku harus menulis lagi. Sudah lama rasanya tidak menulis untuk sebuah karya sederhana yang nantinya di kompilasikan dalam sebuah jurnal atau buku saku. Inilah dia aksi yang harus aku jalankan sekarang Menulis!

Saat aku terbangun keesokan paginya, aku langsung mencari cermin. Seperti biasa aku akan tersenyum untuk memulai hariku dan menyapa hangat segarnya dunia di pagi hari. Tidak jarang pula, aku bersenandung kecil lirik lagu Crisye yang di rubah sedikit “Pagi yang cerah senyum manis dibibir merah, memberikan sejuta pesona dalam hidupku”.

Pada saat itu juga, mata dan hatiku terbuka. Kejadian semalam membuatku lebih bersemangat. Perubahan kecil ini seperti memberiku penjelasan akan semua duka yang bertahun-tahun terjadi ( mode-majas hiperbola). Memberiku obat, kekuatan keyakinan. Aku melangkah cepat mencari laptopku, menekan keyboard, dan menulis puluhan kata-kata yang bermain di benakku. Aku harus segera menulisnya. Jangan menunggu. Jangan ditunda. Karena hidup tak akan menunggu kita. Aku tak mau ide itu hilang. Aku akan menulisnya. Sekarang!.

Kalau kita mau usaha untuk tampil dan melakukan yang terbaik yang kita bisa, maka kita bakal merasa lebih percaya diri dan Bahagia meskipun belum mendapat perhatian dari orang lain sama sekali.

Perubahan kecil ini kuyakini akan membawaku keperubahan-perubahan besar. Perubahan yang membuatku berani untuk bermimpi lagi. Disamping itu aku sangat yakin perubahan ini yang membuat aku menghargai dan mencintai diriku sendiri sebelum aku mengharapkan semua ini dari orang lain. Yang membuatku merasa berani untuk mulai bermimpi dan berharap lagi. Bukan hanya untuk cinta, tapi juga untuk cita-cita dan masa depanku. Atau setidaknya, pagi ini aku merasa lebih berani untuk meningglkan masa lalu yang santai dan berusaha untuk mengatasi semua masalahku kini. Akulah penentu dalam hidupku, akulah yang harus pegang kendali atas diriku. Aku juga yang menjadi penentu kebahagiannku. Sekarang ini waktunya untuk mengganti soundtrack hidupku, tidak dengan sikap yang lamban dan santai, tidak dengan air mata, melainkan dengan semangat, keyakinan, kesabaran, dan terus bergerak maju.


Melvina Amir
At home, 6:12 pm
Langit senja merah menyapa
Di Lumba-Lumba 24 tangkerang selatan.

(Great thankful to Allah, penulisan buku saku yang kedua “Developing a Presentation” sudah pada tahap 70%. Tetap semangat sampai selesai!!!)

Biarkan Berlalu.....

Hello – Biarkan Berlalu


letih aku bila menatap

segala kisah dalam dirimu

pengorbanan dan penantian

hanya terbuang dan sia-sia


* kau hempaskan tubuh ini

kau goreskan luka hati


reff:

takkan aku kenal lagi

tulus cinta yang kau beri

pergilah cintaku

lupakan dirinya


takkan aku ingat lagi

sakit hati yang kau beri

pergilah cintaku

biarkan berlalu




lirik lagu ini mengingatkanku dengan kisah hidupku di pertengahan 2008.....
tidak mudah memang melewati masa-masa pahit itu. Tapi Alhamdulillah kini aku bisa tersenyum kembali dan memulai kembali merenda mimpi dan harapan-harapan baru.Aku percaya harapan itu masih ada jika kita mau bergerak maju.In short, syukuri, nikmati, dan terus bermimpi.

Tuesday, June 30, 2009

English for Specific Purposes

DISCOURSE/ GENRE ANALYSIS


Reading :
Dudley-Evans, T., and St. John, M.J. (1998). Developments in English for Specific Purposes: A multy-disciplinary approach. Cambridge, England: ambridge University Press
Discourse Analysis of Business Letters Written by Iranians & Native Speaker. (ESP Journal)

Topic Discussion:
Defining what genre is and operationally identifying different types of Genre.

Assignment: Find written text/ abstract & research article/ acknowledgments for analysis and conduct genre analysis by partner.

Some notes of Discourse/Genre Analysis

A discourse community is a group of people who have texts and practices in common, whether it is a group of academics, or the readers of teenage magazines. In fact, discourse community can refer to the people the text is aimed at; it can be the people who read a text; or it can refer to the people who participate in a set of discourse practices both by reading and writing.

Essentially, genre is a term for grouping text together, representing how writers typically use language to respond to recurring situations.
Halliday’s (1994) Systemic Functional Linguist (SFL) model define genres grouping text which have similar formal features.Genres also seen as guiding frameworks.
Allison (1999) mention that a genre is understood to be a class of language use and communication that occurs in particular communities.

Genre theory seeks to explain the texts used by groups or communities by reference to the functions of those groups or communities and their outlook on the world. For example, typical functions of academic communities include dissemination of research findings, provision of description and explanation of phenomena. These functions lead to certain forms of communication including the conference presentation and the research report.

Whereas genre analysis had been concerned with categorizing text types in relation how they are formatted or according to surface level textual features.


At the core of genre-based ESP teaching has been a concern to identify the genres that students will use in the target situation and then help students to deconstruct them in order to understand how they are structured, how the structure relates to the objectives ( or communicative purposes) of the target group, what content the genres contain, and the linguistic devices and language use typical in them. Thus in ESP, if our students are a group of medical researchers, we try to establish which genres are important for them in their work ( such as articles reporting research, research proposals and grant applications) and then highlight the structures and features that typify those genres.

Genres are specific to the communities in which they arise. Each academic discipline, each workplace group and professional community serves a different function in society and thus their purposes vary, with resulting impact on the genres that arise in them. A research proposal in mathematics is different from a research proposal in history. A case study report in business is different from one in social work.


Melvina, M.Ed
Teachers’ Training and education Faculty
University of Lancang Kuning
melvina_amir@yahoo.co.id

English for Specific Purposes

NEED ANALYSIS

ESP is understood to be about preparing learners to use English within Academic, professional, or workplace environments, and a key feature of ESP course design is that syllabus is based on an analysis of the needs of the students. Thus, in ESP, language is learnt not for its own sake or for the sake of gaining a general education but to smooth the path to entry or greater linguistic efficiency in these environments. As the syllabus is based on needs, it is likely to be motivating for learners, who see the obvious relevance of what they are studying. Moreover, most ESP courses are to time constraints and time must be effectively utilized (West, 1994). As students in ESP classes often have restricted time to learn English, it makes sense to teach them only the bits of English they need. Thus the task of the ESP course developer is to identify the needs of the learner and design a course around them.

A number of need analysis studies are reported in the ESP literature. Chia, Johnson, Chia, and Olive (1999) report their investigation of the English language needs of medical students in Taiwan. Sakr (2001) reports a study into the English language needs of textile and clothing industry workers in Cairo. Evangelou (1994) reports a project to explore the English language needs of nurses.

Need analysis studies have investigated the perception of language needs of different parties and have often revealed differing perception. Ferris (1998) investigated the differing perceptions of students and faculty of students’ academic aural/oral needs for university study in number of colleges in the United States. Basturkmen (1998a) investigated students and faculty perception of the English language needs of students in the faculty of Engineering and Petroleum at Kuwait University. Jasso-Aguilar (1990) investigated the perspective of maids and the institutional representatives of the hotel in Waikiki in which the maids worked.

Li So-mui and Mead (2000) report the needs analysis they conducted to help them prepare an ESP course for students of textile and clothing merchandising in Hongkong. Their project set out to obtain information on the types of communication required in the Industry. They used a range of research methods to collect data including questionnaire surveys, telephone interviews, analysis of authentic correspondence, and visits to the workplaces of the merchandisers. The study revealed that the merchandisers used written English far more than spoken English in their work; that fax and telephone calls were more common channels of communication than e-mails and letters, and that there was a high use of abbreviations in written communications

Some needs analyses follow ethnographic principles and aim for a ‘thick description’ of the target environments (John & Dudley-Evans, 1991). This approach to needs analysis involves in-depth ethnographic data collection methods such as observations and exploratory interviews. Example of this type of needs analysis are Jasso-Aguilar’s study (1999) of the language needs of maids in a hotel in Waikiki, Ibrahim’s study (1993) of language needs in the manufacturing industry in Japan, and Kurtoglu’s study (1992) of seminar speaking needs in a Turkish University.


DISCUSSION QUESTIONS
Your supervisor has decided that you will initiate a VESL class (an ESP program) at your school. What are some of the questions you need to ask and things you need to do to prepare for that class?

If you were conducting a need analysis in preparation for developing an ESP course, what practical steps would you take to ensure that you gather the perspective of all the different parties ( such as the learners, institutions, and teachers)? What would you do if there were significant differences in the perspective of the parties?



FURTHER READING:
Dudley-Evans, T., and M.J. St.John. 1998. Developments in English for Specific Purposes: A Multi-Disciplinary Approach. Cambridge: Cambridge University Press.

Johns, A. M., & Price-Machada, D. (2001). English for specific purposes (ESP): Tailoring courses to students' needs-and to the outside world. In M. Celce-Murcia (Ed.), Teaching English as a second or foreign language (3rd ed., pp. 43-54). Boston: Heinle & Heinle.

Rewritten by:
Melvina, M.Ed
Teachers’ Training and education Faculty
University of Lancang Kuning
melvina_amir@yahoo.co.id

Extensive Reading Final Exam

UNIVERSITAS LANCANG KUNING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Final Exam
Extensive Reading
Semester 4
English Department

Questions:
1. When did you start extensive reading?
2. What kind or what level of book did you choose?
3. How many passages or pages did you read once time? After the reading, did you get clear picture (understand) about the book/story?
4. What do you think now about learning English?
5. How is your reading speed now?
6. What do you think about your reading comprehension after extensive reading? Does it improve? If yes, how?

*GOOD LUCK*

ESP Final Exam

UNIVERSITAS LANCANG KUNING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Final Exam
English for Specific Purposes
English Department

Questions:
1. What is English for specific Purposes (according to literature)? What is your
definition of ESP?
2. How is English for Specific Purposes (ESP) different from English as a
Second Language (ESL), also known as general English?
3. Please, figure ESP classification!
4. Why “need analysis” is needed in ESP? If you were conducting a need analysis
in preparation for developing an ESP course, what practical steps would you
take? Why?
5. Defining what discourse/ genre analysis is
6. Please, mention a number of parameters of course design!
7. Please, give briefly explanation 4 reasons for using materials in the ESP
context!
8. What is assessment? Is it important to assess your learners? Why?
9. (*Bonus Track) Acronyms:
EAP: ……… EST: …… EOP: …… TESOL: ……
ESP: ……... EVP: ……. EMP: …… TOEFL: …..
EBP: ……… EMP: ….. TESL: …… TOEIC: …..

*GOOD LUCK*

Wednesday, June 24, 2009

Rubah Kerugianmu Menjadi Keuntungan

Jika engkau merasakan lapar di dunia ini. Atau bila engkau mengalami kefakiran dalam hidup ini. Atau jika engkau bersedih, engkau sakit, engkau sangat berduka, engkau merasakan kepahitan di dunia ini. Ingatkanlah jiwamu dengan kenikmatan, dengan ketenangan, dengan kebahagiaan, dengan keamanan dan keabadaian di surga. Bila engkau yakin dengan aqidah ini, dan engkau tahu arah perjalanan hidup ini, niscaya kerugianmu akan berubah menjadi keuntungan. Dan dukamu akan berganti menjadi karunia. (DR.Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Berteduhlah di Taman Hati).

Orang yang paling pandai adalah yang bekerja untuk akhiratnya, karena ia tahu akhirat adalah yang lebih baik dan lebih abadi. Sementara itu orang yang bodoh adalah mereka yang memandang dunia ini sebagai tempat tinggal, tempat menetap dan ujung dari harapan serta mimpi mereka. Orang yang seperti itu jika tertimpa musibah akan sangat terpukul dengan apa yang mereka alami. Dan akan menjadi orang yang sangat menyesali peristiwa. Karena apa? Yaitu itu tadi, mereka tidak melihat apapun kecuali kehidupannya yang tidak mulia di dunia. Mereka tidak memiliki penilaian kecuali pada dunia yang fana ini. Mereka tidak berfikir selain hanya dunia dan tidak bekerja selain untuk dunia saja. Mereka tidak mau ada kebahagiaan yang terluka, dan tidak mau ada kesenangan yang ternoda. Jika mereka bisa menyingkap katup kebodohan dari mata mereka. Niscaya mereka akan berbicara tentang keabadian surga, kenikmatannnya, dan istana-istananya. Sesungguhnya surga lah sebuah tempat yang penting untuk diperhatikan dan direnungkan dengan penuh keseriusan.

PEKANBARU MEDICAL CENTER (PMC)
Room.307
THURSDAY, 18 June 2009
04:00PM

Thursday, June 18, 2009

Ilmu Sabar....Yuk Kita Belajar Sabar!

"Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak".

”…tidak sempurna iman seseorang, … sebelum ia bersabar.”

(Ali bin Abi Thalib)


"Kiat Sabar"

Sepanjang kehidupan manusia, problem silih berganti datang, karena
makna kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapi problem.
Secara teologis, problem kehidupan adalah tantangan yang akan
mengklasifikasi mana orang-orang baik dan mana orang jahat, mana orang
yang tahan uji dan mana orang yang lemah. Secara teori, orang mukmin
akan selalu beruntung, karena ia bersyukur ketika memperoleh
keberuntungan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya
orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh
keberuntungan ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia
lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi
cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka
mencapai tujuan.

Untuk dapat bersabar, agama Islam mengajarkan adab sebagai berikut:

1. Tahan ketika menghadapi hantaman pertama. Rasulullah pernah bersabda:
Innamassabru indassad matil uulaa
Artinya: Sabar yang sesungguhnya ialah ketika menghadapi hantaman pertama.

2.Ketika ditimpa musibah, segera mengingat Allah dan mohon ampunannya.
Firman Allah: Artinya: (Orang-orang yang sabar ialah) mereka yang
ketika ditimpa musibah, berkata; sesungguhnya kami adalah milik Allah
dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Nya. (al Baqarah: 156)

3. Tidak menampakkan musibahnya kepada orang lain, seperti yang
dicontohkan oleh istri Abu Talkhah (Ummu Sulaim) ketika ditinggal mati
anaknya. (dikisahkan dalam hadis Riwayat Muslim)

4. Sabar menghadapi semua cobaan dengan ikhlas kepada Allah. Allah
berfirman dalam hadis Qudsy: Hambaku yang mukmin, yang bersabar dengan
pasrah kepadaKu ketika kekasihnya Aku panggil kembali (mati),
kepadanya tak ada balasan yang layak dari Ku selain sorga. (HR. Bukhari)

Monday, June 15, 2009

Here... We are... The Solid Team....Bangga Menjadi Wanita


Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari. Hikam: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Rosulullah saw bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah.” (HR. Muslim) Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat. Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita solehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang solehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang solehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar.

Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar

Wednesday, June 3, 2009

What friends are for....(mengingatmu tak kan habiskan waktuku)





Team Bodrex

Team Bodrex, sepintas bila kita mendengar kata ini disebut mengingatkan kita dengan sebuah nama obat yang cukup terkenal di INDONESIA. Tapi yang satu ini beda, team Bodrex yang satu ini bukanlah merek obat melainkan nama sebuah team. Team Bodrex, adalah nama team yang kami pilih untuk kelompok kami. Kenapa namanya Team Bodrex? Saya sendiri juga tidak begitu ingat peristiwa munculnya nama ini. Sejarah yang saya tahu team ini terbentuk karena kami adalah sekelompok kecil pengurus yang bisa dikatakan termasuk rajin, bertanggung jawab dan rela mengorbankan apa saja untuk melaksanakan dan mensukseskan sebuah acara baik yang diselenggarakan oleh kepenegurusan PPI-UKM sendiri ataupun ada permintaan dari pihak luar misalnya, PPS, KBRI dan UKM sendiri. Sejarah yang lebih lengkap akan saya tuliskan insyaAllah di chapter yang lain.

Team Bodrex, pada awalnya terdiri dari 9 orang yaitu team inti, namun berjalannya waktu dan bertambahnya kegitan PPI-UKM bertambah menjadi 10 orang, bahkan kami memiliki 2 additional player yang bukan termasuk team inti karena beberapa alasan dan kemauan mereka sendiri untuk tidak bergabung kedalam team inti. Meskipun 2 orang ini tidak termasuk team inti tapi mereka tidak bisa diabaikan begitu saja. Banyak bantuan dan partisipasi mereka dalam mewarnai hari-hari Team Bodrex. 9 Orang team inti tersebut adalah saya sendiri, Melvina_Amir yang suka menyingkat namanya dalam penulisan sms atau chatting MV. Mia atau Vita_cet, tapi sebagian dari kami ada yang memanggil Mia dengan Tarigan karena bermarga tarigan, selain itu karena alasan kentara banget MEDANnya. Oh yach kami itu datang dari berbagai macam daerah lho, ada yang dari Medan, Pekanbaru, Jakarta, Jawa dan Padang.

Anggota yang keempat team Bodrex, ada Kharisma dan Ridha. Ehmmmm kenapa mereka berdua ini Mv gandengkan? Tak lain dan tak bukan Kharisma dan Ridha Akrab banget, satu fakulty, sama-sama dari Medan , satu rumah dan yang paling special banget mereka berdua ini emang udah temenan lama. Mereka berteman semenjak SMP (k-lo gak salah) nyambung SMA sama, trus kuliah S1 juga sama di IKIP Medan. Wah bisa-bisa nikanhya juga sama dengan suami yang sama (ups maaf……bencanda lagi!). Selain Medan dan Pekanbaru, anggota yang dari Pulau Sumatra adalah Abrar. K-lo tidak salah dia punya panggilan lain yaitu Uda Abrar. Panggilan Uda pada Abrar untuk menegaskan beliau berasal dari ranah Minang. Selain Mv yang berasal dari Pekanbaru-Riau, ada Ari Tasla yang punya julukan special Mr. Ring-Ring.

Sepertinya para personel yang dari pulau Sumatra udah lengkap. Nah sekarang kita masuk ke Pulau Jawa. Siapa aja yach? MV mulai dari Jakarta aja yach. Kalo tidak salah yang termasuk 8 team inti yang berasal dari Jakarta ada 2 orang. Pertama Een, tapi sebagian kami ada yang memanggil Een dengan panggilan Cik Zahra. Trus ada Adel Rahmadi. Adel punya banyak nama beken lho! Antara lain; adel FST, adel Bio, Si Bakteri (tapi yang ini udah gak boleh di pake lagi atas permintaan si empunya, lagian juga gak asyik banget dengarnya. Maaf yach adel, julukan yang satu ini hadir awalnya dari Mia yang surprise banget pas tau bahan utama researchnya Adel itu Bakteri….heheh ^_^). Julukan yang fenomenal untuk adel adalah si Suami Siaga. Personel inti yang terakhir adalah Anggi Rahajeng. Dari namanya kita semua pasti langsung bisa menebak cewek yang satu ini berasal dari mana. Yuhu… bener banget, Jeung Anggi ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dua orang yang masuk belakangan adalah Haris Wahyudi dan Andri Hutari. Sebelum Mv cerita sejarah gimana mereka bergabung, mv mau cerita bahwa team Bodrex yang beranggotakan 9 personel inti establish semenjak berjalannya gerai Fiesta, tapi peristiwa yang menjadi titik tolak berdirinya team Bodrex adalah Penyambutan MAhasiswa BAru. InsyaAllah mv akan bahas bagian ini di chapter yang lain.

Ok kita kembali ke Haris and Andri. Seingat mv Haris Wahyudi bergabung secara resmi pada saat Gerai Convo ( sebelumnya kita udah pernah melibatkan beliau dalam kegiatan kita, tapi beliau bekerja selalu di balik layar and susah ngumpul bareng, palingan komunikasi via roomchat). Kita punya persyaratan bagi yang ingin bergabung dengan Team Bodrex antara lain: memiliki loyalitas yang tinggi, rajin bekerja, bertanggung jawab, rela berkorban apa aja dan syarat-syarat lainnya yang bakalan terungkap di chapter berikutnya. Tapi, syarat yang paling utama dan yang paling menentukan seseorang resmi dan layak untuk bergabung adalah Uang Pendaf taran sebanyak 10 Ringgit dan lulus test uji kelayakan.

Nah…pada saat Gerai Convo, team Bodrex semakin kokoh dan mulai go public. Pada saat itu juga Haris menyatakan siap untuk bergabung dengan meyerahkan persyaratan utama ke MV tepat hari kedua gerai Convo dibuka, namun beliau minta posisinya tetap di belakang layar dengan alasan susah untuk sering ngumpul. Kalo Andri bergabung setelah berhasil melewati beberapa uji kelayakan dalam kegiatan PPI-UKM yang melibatkan langsung Team Bodrex. Mv sendiri tidak begitu tahu pasti alasan mengapa Andri akhirnya mau bergabung. Yang Mv tahu, diakhir acara Gerai Convo Ridha menyerahkan 10 Ringgit dari Andri ke Mv yang pada saat itu bertugas sebagai yang tukang pegangin uang team Bodrex. So semenjak hari itu Andri resmi menjadi bagian team Bodrex yang bergabung belakangan dan di rayakan dengan makan SATE bareng di rumah Cik Zahra plus dengan additional Player . Akhirnya Team Bodrex memiliki 10 personel nyata, 1 dibelakang layer dan 1 additional player yang sudah diakui public dan bahkan menjadi bahan pembicaraan orang-orang.(MV)















The Mother



The grass grows because of the spring sun, but the grass can't give anything back to the sun in return. It is the same with mother's love. The love is so great and deep that a son, like inch-long grass, can hardly return his mother's love. How much love can the inch-long grass give the spring sun in return......

Translated by
Prayat Laoprapossone
Thailand

I would like to write about the relationship between my mother and me.My mother is the person who has influenced me for more than twenty years. She is a beautiful woman, she also a career woman, and she taught me principles of what is good and what is bad. she also told me about life. Now I am twenty seven years old, and I understand why she was strict with me. When I have a problem now. I call my mother because she is still the person who takes care of me.

Love you mom